📖 YANG SULIT DIPERBAIKI

“Seseorang itu kalau sudah merasa ‘baik’… SULIT DIPERBAIKI”
(Astaghfirullah Wa Na’udzubillah)

Sungguh perkataan singkat yg amat menusuk dan amat dalam maknanya…

1⃣ Awal mula tertimpanya keburukan bagi seseorang, apabila dia merasa dirinya sebagai ‘orang baik’.

Ummul Mu`miniin ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha pernah bertanya kpd Rasullullah SAW :

•Kapan seseorang itu dikatakan buruk?”

Rasulullah SAW menjawab:

“Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.”
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606)

Benarlah perkataan beliau, awal mula keterperosokan seseorang dalam keburukan, ketika dia menilai dirinya sbg seorang yg baik. Maka dia pun akan mulai merendahkan orang lain. Maka dia pun merasa serba-berkecukupan, sehingga hal itu menghalangi dirinya utk terus memperbaiki segala keburukannya, kesalahannya, kekeliruannya, serta kekurangan2-nya dlm menunaikan kebaikan.

2⃣ Demikian pula, Seseorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.

Fudhayl bin ‘Iyyaadh ditanya ttg arti Tawadhu, beliau menjawab:

“Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau tahu ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebe naran tsb dari dia. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yg paling bodoh; (ketika engkau tahu ia menyam paikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tsb dari dia.”

Jangan sampai banyaknya pengajian yg telah kita hadiri, banyaknya kitab yg telah kita baca, dan banyaknya nasehat yg kita dapatkan dari saudara2 seiman kita; tidak berhasil menambah keimanan dalam hati kita.

Kalau hal ini sampai terjadi, dikhawatirkan ketika kita mendapat nasehat, masukan, saran atau kritik dari mereka (dan apa yg mereka sampaikan sebetulnya benar); namun karena kita nilai tingkat keilmuan mereka masih lebih rendah dari kita, lantas kita  menolaknya. Karena sikap kita tsb, kita jadi terhalang utk mendapatkan tambahan ilmu dan kita pun menjadi terbelakang.

3⃣ Demikian pula, seseorang itu akan sulit utk mengakui kekurangan amal dirinya, bila dia menyangka amalnya sudah sempurna (apalagi bila dia menyangka amalnya sudah diterima Allah Ta’ala). Akibatnya ia pun enggan memperbaiki kualitas amalnya, apalagi utk menambahkan kuantitas amalnya.

Berkata salah seorang ulama kepada orang yg mengagumi amalnya:ِ

“Janganlah engkau terpedaya dgn apa yang kau lihat padaku. Sesungguhnya iblis beribadah kpd Allah Swt ribuan tahun, kemudian dia menjadi kafir.”

Allaahu Akbar. Sungguh menakjubkan perkataan beliau. Alangkah jauhnya beliau dari ketertipuan dan keterpedayaan. Banyaknya amal yg beliau lakukan, tidak lantas menjadikan beliau pongah. Kekaguman orang2 pada amal beliau, tidak menjadikan beliau berbangga.

Bahkan beliau tetap khawatir dgn dirinya, karena dahulu iblis pun adalah makhluk yg zhahir nya taat, tapi krn kebusukan niatnya, akhirnya Allah Azza Wa Jalla menampakkan hakikatnya ketika dia diuji.

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari ketertipuan, seraya kita memohon pada-Nya husnul khaatimah..

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…

Baarokallah fikum

Kiriman Ustadz Oemar Mita, Lc